Yayasan ADBMI

Belasan Tahun Merantau, Fatanah Kini Menjadi Pedagang Asongan Di Bandara Lombok

Keinginan Fatanah memberangkatkan haji orang tuanya serta menyekolahkan sang adik membuatnya harus memilih menjadi pekerja migran Indonesia. Mimpi – mimpi yang selama ini dianggapnya suatu kemustahilan bisa diselesaikan hanya dengan menjadi pekerja migran.

Fatanah bahkan menjadi PMI sejak tahun 2007 sampai tahun 2019. Dari hasilnya itu, ia bisa menyekolahkan sang adik, membiayai orang tuanya haji sampai dengan membangun istana bagi sang ibu yang sudah tua renta.

Ia memilih pulang karena sang ibu sudah tua renta. Ia ingin bersama sang ibu diakhir cerita hidupnya. Kepergiannya menjadi PMI selama belasan tahun harus ditebus dengan membersamai sang ibu melewati masa sakitnya.

Demi untuk bisa bertahan hidup, Fatanah bahkan menjadi pedagang asongan di Bandara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid, Bandara udara yang tak jauh dari rumahnya. Setiap hari, sedari pagi hingga sore ia berjualan tanpa pernah merasa lelah demi pengobatan sang ibu dan untuk biaya bertahan hidup.

Modal yang didapatkan selama merantau belasan tahun ke luar negeri tak cukup untuk membantunya untuk bisa bertahan terlebih saat dan pasca pandemi covid 19 terjadi.

Belasan Tahun Menjadi PMI, Kini Fatanah Berjuang Dengan Berjualan Di Bandara Lombok Tengah
Photo Istimewa : Fatanah (jilbab biru) saat mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh konsorsium ADBMI dan LGBS, di Desa Tanak Awu.

 

adbmi.org Fatanah (47), Merupakan eks Pekerja Migran Arab Saudi yang pulang pada tahun 2019 lalu, sebelum pandemi covid 19 melanda global. Fatanah sendiri menjadi PMI di sektor rumah tangga, sektor yang di tutup oleh pemerintah sejak 2014 karena banyaknya kasus yang dialami maupun dilakukan oleh pekerja migran kita.

Fatanah sendiri merupakan warga dusun Rebile desa Tanak Awu kecamatan Pujut Lombok Tengah. Desa yang menjadi gerbang pertama ketika memasuki kawasan Nusa Tenggara Barat melalui jalur udara.

Setelah pulang dari rantauan, Fatanah kini memilih untuk berjualan di Bandara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) Lombok Tengah. Kebetulan bandara tersebut dekat dengan wilayahnya, bahkan termasuk ke dalam wilayah Tanak Awu.

Jualannya pun tak jauh berbeda dengan masyarakat kebanyakan, ia berjualan jajanan yang diambilnya di pasar Sengkol setiap pagi. Ada permen, kripik, roti, kacang dan makanan ringan lainnya. Itu semua ia jual dengan cara berkeliling dan menawarkan kepada para pengunjung.

“Hasilnya lumayan kalau keliling, ketimbang punya toko tapi terlalu jauh dan kadang tak terlintas pengguna jalan,” terang Fatanah tempo lalu saat mengikuti pelatihan pengemasan produk yang diselenggarakan oleh konsorsium ADBMI dan LGBS.

Memang, cenderung masyarakat lebih memilih untuk mengangkut barang dagangannya dari pada memilih untuk menunggu pengunjung yang datang. Istilahnya jemput bola. Dan mereka lebih merasakan hasil yang lebih banyak meskipun dengan hanya berjualan makanan ringan.

Fatanah sendiri sudah lama berjualan di bandara, bahkan sejak tahun 2020. Ia bahkan merasakan sekali bagaimana ketika pandemi covid 19 melanda global yang mengakibatkan terjadinya stagnansi ekonomi. Bukan hanya ekonomi negara yang lumpuh, bahkan juga dirasakan betul oleh pedagang asongan.

“Tidak adanya para pengunjung yang datang karena penerbangan dibatasi, saya rasakan betul,” sambungnya sembari mengingat masa sulit itu.

Di ruang kelas sekolah dasar negeri 2 Tanak Awu, sembari mengikuti pelatihan, Fatanah bercerita bahwa lebih mudah mendapatkan uang dengan cara merantau. Terutama menjadi PMI sektor rumah tangga ke Timur Tengah.

Namun, Fatanah sudah tidak bisa merantau lagi. Usainya sudah senja. Bahkan batasan umurnya pun sudah melampaui batas. Disamping itu, sektor rumah tangga untuk PMI yang bertujuan ke Timur Tengah sudah ditutup. Sehingga, meskipun banyak masyarakat yang bisa menjadi perantau sektor rumah tangga di atas tahun 2014,itu karena menggunakan visa ziarah (perjalanan Umroh). Dan ini akan lari ke tindak pidana perdagangan orang.

Belasan Tahun Menjadi PMI, Kini Fatanah Berjuang Dengan Berjualan Di Bandara Lombok Tengah
Photo Istimewa : Fatanah (jilbab biru) saat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh konsorsium ADBMI dan LGBS di kawasan KEK Mandalika, Tanak Awu.

Fatanah Ingin Ekonominya Kembali Pulih

Di ruang kelas berukuran 10 x 8 meter itu ia berucap, sembari menggoreng kripik siang itu karena ia sedang mengikuti pelatihan.

“Nanti saya akan kembangkan kripik singkong dan pisang ini di rumah,” terang Fatanah kepada para peserta yang lain.

Ilmu yang didapati saat mengikuti pelatihan ini sangat luar biasa. Ia sangat tertarik dan ingin mengembangkannya. Ia sendiri mengikuti pelatihan ini karena ia termasuk penerima manfaat program konsorsium ADBMI dan LGBS. Ia adalah mantan PMI yang kini sedang membangun ekonomi untuk pulih.

Dalam program yang diberi nama SIAP SIAGA ini, Para penerima manfaat dituntut untuk mengambangkan usahanya. Ini sebagai salah satu cara untuk menekan PMI daur ulang, habis modal terbitlah paspor.

Sebelumnya, Fatanah tak pernah mengikuti pelatihan seperti ini. Ia tak tau apakah ada pelatihan yang diberikan kepada masyarakat atau tidak dari pemerintah desa maupun sampai pusat. Namun, ia memang baru pertama kali mengikuti pelatihan ketika diselenggarakan oleh konsorsium ADBMI dan LGBS yang disupport oleh Palladium.

Ia bahkan berharap semakin banyak kegiatan yang memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama kepada para pekerja migran maupun eks PMI. Baginya, menjadi pekerja migran merupakan sesuatu yang berat. Namun juga tidak ada pilihan untuk kembali bangkit.

“Hanya dengan berjualan dan membuka usaha, ekonomi bisa pulih. Di luar itu, menjadi pekerja migran,” sahut Fatanah.

Kita memang tak bisa pungkiri pandangan masyarakat yang menganggap semua permasalahan ekonomi bisa diselesaikan dengan cara menjadi pekerja migran. Padahal, banyak jua hal – hal lain yang ditimbulkan dari proses panjang migrasi.

Pernikahan dini dari kalangan keluarga PMI, anak stunting, gizi buruk, pola asuh yang tidak jelas sampai dengan pendidikan anak dari keluarga PMI yang bermasalah. Ujung ujungnya, keluarga PMI yang menjadi sasaran empuk gosipan.

Share
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *