Yayasan ADBMI

Manfaatkan Barang Bekas, Ijang Hasilkan Mesin Sederhana Dan Hidupkan Ekonomi Masyarakat

Adbmi.org _Suara mesin rakitan yang dibuat Rizal Saparwadi terdengar dari jarak 25 meter. Mesin yang berfungsi untuk menghaluskan bilahan bambu ini terbuat dari bekas mesin air yang di rakit secara sederhana.

Mesin ini dibuat untuk memudahkannya dalam menghaluskan bilahan bambu. Lalu hasilnya di jual kepada pedagang sate, cilok, batagor dan beberapa warung yang sudah menjadi langganannya.

Usaha ini sudah dijalankan sekitar setahun belakangan ini. Ia berinisiatif membuat mesin ini karena sudah kewalahan karena banyaknya pelanggan yang butuh barang yang di buatnya.

Dengan memanfaatkan lesehan depan rumahnya, Rizal Saparwadi selalu ramai dikunjungi oleh para pembeli dan masyarakat sekitar.

Photo Istimewa : Rizal Saparwadi saat melakukan penghalusan dengan mesin rakitannya.

Ia menjalankan usaha ini bersama istrinya, Erni Sosialmi. Ia juga sudah memiliki pekerja yang di gaji harian karena belum berani untuk mempekerjakan secara tetap.

Sembari menghaluskan bilahan bambu, Rizal Saparwadi yang akrabnya disapa ijang ini menuturkan awal mula usaha ini dijalankan. Ia menjalankan usaha ini sembari menunggu pemberangkatan ke Malaysia.

“Saya sudah mendaftar hampir setahun yang lalu. Saat masa pandemi covid 19,” ucapnya.

Meskipun dengan alat – alat sederhana hasil buatannya, ia sudah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi beberapa tetangganya. Selain itu, para pedagang keliling yang menjajakan cilok, batagor dan jajan lainnya sudah menjadikannya sebagai tumpuan. Selain murah, hasil yang di tawarkan juga sangat memuaskan yang membuat mereka tetap memilih membeli tusuk (pemincuk- bahasa Sasak) yang di buat ijang.

Setiap hari, ia bisa menghabiskan beberapa batang bambu untuk di produksi. Di potong dengan gergaji lalu di potong kecil – kecil dengan golok miliknya.

Selepas itu, ia langsung menjemur potongan bambu tersebut untuk menghasilkan rautan bambu yang bagus dan cepat dalam proses penghalusan.

“Dengan adanya mesin yang saya buat ini, pekerjaan yang biasanya dikerjakan selama berhari-hari bisa kita habiskan dalam waktu sehari,” cetus ijang.

Ijang juga merupakan salah satu penerima manfaat dari program yang di jalankan oleh ADBMI dan RBA di desa Anjani. Program yang menyasar keluarga pekerja migran ini sudah dijalankan sejak awal tahun 2022 sampai akhir tahun ini.

Photo Istimewa : dokumentasi pelatihan pengembangan rencana bisnis keluarga pekerja migran di aula kantor desa Anjani

Ijang adalah satu dari 200 penerima manfaat program penguatan ekonomi keluarga pekerja migran pasca pandemi covid 19.

Dengan program ini, akan terbentuk unit usaha dari keluarga pekerja migran dan akan didampingi selama setahun penuh.

Kini, ijang sudah bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitarnya. Khususnya ekonomi masyarakat yang berdomisili di dusun Anjani Timur desa Anjani Kecamatan Suralaga.

Sampai sekarang, sudah ada puluhan pelanggan yang selalu meminta barang produksi rumahan milik ijang. Pelanggannya bukan hanya masyarakat sekitar, tapi juga berasal dari luar wilayahnya.

Ia adalah salah satu gambaran keluarga pekerja migran yang memiliki inisiatif dan inovatif. Dengan pengalamannya bertahun – tahun di dunia rantauan membuat ijang memiliki inovasi yang bisa menggerakkan ekonomi keluarganya dan masyarakat sekitar.

Share
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.