top of page

Wiana Julianti Menuggu Kita

Tak ada yang ingin dilahirkan sebagai difabel kecuali Wiana Julianti. Dan Tuhan punya cerita dibalik itu semua.
Semenjak kepergian kedua orang tuanya, Wiana Julianti hidup bersama saudaranya. Selain saudara, tak ada lagi tumpuan hidupnya.
Poto Istimewa : Wiana Julianti, Difabel asal Desa Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur.
Poto Istimewa : Wiana Julianti, Difabel asal Desa Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur.

adbmi.org - Minggu sore kami berkunjung ke rumah Wiana Julianti, salah satu keluarga difabel asal Dusun Anjani Barat Desa Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur. Bersama Semeton Yatim, kami melakukan asesmen kebutuhan dan juga membawakan bantuan, meskipun masih kurang.


Wiana Julianti yang saat itu baru selesai mandi. Ia dimandikan oleh Kakak Iparnya, Maasniwati. Setiap hari, segala kebutuhannya mulai dari makanan, Sabun, hingga menggantikannya Pampers disiapkan oleh sang ipar.


Wiana Julianti kini telah berusia 24 tahun. Ia mengalami penurunan kondisi tubuh sejak ia lahir. Ia tidak bisa bicara. Bukan hanya itu, ia juga tidak bisa berjalan dan juga tidak mendengar.


Ia hanya bisa menatap. Dari tatapannya yang tajam, ada ribuan bahasa yang ingin ia utarakan pada siapa saja yang datang berkunjung.


Sudah Banyak Yang Mendata, Namun Tak Kembali


Meski hidup sebagai difabel sejak lahir, Wiyana Julianti tidak memiliki akses ke fasilitas-fasilitas kesehatan secara gratis. Ia memiliki BPJS kesehatan, namun di blokir oleh pemerintah. Jadi, apapun kebutuhannya ia hanya mengandalkan penghasilan sang kakak yang hanya bertumpu sebagai buruh harian lepas.


Sang Kakak, Nopan Jayadi hanya bekerja sebagai buruh harian lepas. Ia hanya bisa membawa pulang 50 ribu setiap harinya. Bahkan kurang.


Lebih parahnya lagi, ia bekerja serabutan. Kerap kali ia tidak bisa bekerja karena keterbatasan lapangan kerja.


Disisi lain, keluarga ini masuk sebagai kategori desil 5. Hidup dengan uang 50 ribu sehari untuk menghidupi 5 orang anggota keluarga sangat mustahil.


Hingga saat ini, belum ada bantuan apapun yang pernah di dapatkan oleh Wiana Julianti dari pemerintah. Sudah banyak yang melakukan pendataan, namun hanya datang sekali tanpa ada tindak lanjut.


Padahal, selain kebutuhan sehari - hari, ia juga mengharapkan bantuan kursi roda yang bisa ia gunakan sehari hari.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

ADBMI Foundation

Kami concern terhadap isu-isu Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan keluarganya.

Email: yayasanadbmi@gmail.com

Phone: 037621880

Kab. Lombok Timur

Update Buletin Setiap Bulan

Terimakasih sudah berlangganan..!!

© 2025 - ikone |  Terms of Use  |  Privacy Policy

bottom of page