Dibawah Tatapan Maulana Syaikh, Harapan Itu Datang Ke Rumah Wiana
- Firman Siddik

- 10 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Di sudut sebuah rumah sederhana di Desa Anjani, Kecamatan Suralaga, sebuah foto tua tergantung di dinding yang mulai kusam. Bukan foto keluarga, bukan pula potret tokoh terkenal masa kini.
Foto itu adalah wajah Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat, Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Di hadapan foto itulah Wiana Julianti menghabiskan hari-harinya, dalam sunyi yang panjang.

adbmi.org - Tak ada yang menyangka, foto yang selama ini hanya menjadi penghias dinding rumah itu kini seolah menjadi saksi sekaligus pembuka jalan hadirnya perhatian banyak orang kepada Wiana.
Wiana Julianti merupakan perempuan berusia 24 tahun yang tinggal di Desa Anjani. Sejak lahir, ia menyandang disabilitas dengan kondisi Down Syndrome berat. Hidupnya semakin berat setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.
Kini ia berstatus yatim piatu dan bergantung pada sang kakak yang bekerja sebagai buruh tembakau sekaligus buruh serabutan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Di rumah sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter itulah Wiana menjalani kehidupannya. Kesederhanaan begitu terasa di setiap sudut ruangan. Namun, satu benda yang paling mencuri perhatian adalah foto Maulana Syaikh yang tergantung rapi di dinding.
Bagi keluarga dan sebagian besar masyarakat Nahdlatul Wathan, sosok Maulana Syaikh bukan sekadar ulama besar, tetapi juga figur yang selalu mengajarkan kasih sayang kepada kaum lemah.
Belakangan, kondisi Wiana mulai mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Berbagai instansi turun langsung memberikan pendampingan, mulai dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga BAZNAS Kabupaten Lombok Timur.

Puskesmas Suralaga juga telah melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dan mengupayakan proses rujukan ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, Wiana diketahui mengalami malnutrisi sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.
"Hasil pemeriksaan kami menunjukkan Wiana mengalami malnutrisi. Ini perlu menjadi perhatian serius, termasuk dari pihak keluarga," ujar Kepala Puskesmas Suralaga, Heni Rosdiana.
Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, Wiana tak pernah mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata yang jelas.
Namun, kehadiran banyak orang yang datang menjenguk, memeriksa kesehatannya, hingga memberikan bantuan menjadi secercah harapan baru bagi kehidupannya.
Bagi masyarakat, foto Maulana Syaikh yang menghiasi rumah Wiana memiliki makna tersendiri. Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Wathan sekaligus tokoh pendidikan dan dakwah yang mendedikasikan hidupnya untuk umat. Beliau juga mendapat julukan "Abul Yataama wal Masaakin", yang berarti bapak bagi anak-anak yatim dan kaum miskin.
Julukan itu terasa hidup dalam kisah Wiana hari ini. Entah sebuah kebetulan atau tidak, perhatian dari berbagai pihak hadir ketika kisah hidupnya mulai diketahui masyarakat. Yang pasti, di balik dinding rumah yang sederhana, tersimpan harapan agar kepedulian ini tidak berhenti sebagai perhatian sesaat, melainkan menjadi jalan bagi Wiana untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak.
Sebab pada akhirnya, bukan foto di dinding yang membawa perubahan, melainkan nilai-nilai kasih sayang, kepedulian, dan keberpihakan kepada mereka yang lemah nilai yang selama hidup diperjuangkan oleh Maulana Syaikh.



Komentar