JEJAK PARIWISATA DI HUTAN LINDUNG
- Firman Siddik

- 2 hari yang lalu
- 2 menit membaca

adbmi.org - Pulau Satonda merupakan bagian dari Taman Nasional Moyo Satonda yang berada di Pulau Sumbawa, tepatnya di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu. Dengan demikian, Pulau Satonda memiliki nilai yang tinggi sebagai wilayah Konservasi.
Pulau yang dikenal sebagai “Patahan Gunung Tambora” tersebut menyimpan berbagai pauna laut dan darat seperti kaka Tua Jambul Kuning, Burung Beo, Pari Manta, Penyu, Mamalia dan Reptil serta berbagai jenis Ikan Karang Tropis.
Vegetasi utama pulau Moyo dan Satonda banyak didominasi pohon – pohon tahan kekeringan seperti Kesambi, Asam, Bidara dan Kayu Putih. Selain itu juga memiliki padang savana dan rumput yang luas. Bahkan, di Kawasan TN Moyo Satonda juga ditemukan berbagai jenis Mangrove seperti, Rhizopora,sp, Avicennia,sp., Sonneratia,sp. Semuanya tumbuh di beberapa Kawasan teluk dan pesisir TN Moyo Satonda.
Meski sudah ditetapkan sebagai Kawasan konservasi Taman Nasional Moyo Satonda tahun 2022 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jumlah wisatawan local maupun mancanegara masih minim. Ini dikarenakan eksistensi yang dimiliki oleh TN Moyo Satonda masih kurang.
Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) melaporkan, jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2025, sekitar 347 Miliyar yang hanya bersumber dari tiket masuk di 145 unit taman nasional, taman wisata alam dan taman buru, dengan nilai transaksi bagi masyarakat binaan sebesar 163 milyar.
Sementara itu, RPJMD Provinsi Nusa Tenggara Barat 2025 – 2029 melalui program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya (kehutanan) mencakup pengelolaan Kawasan lindung dan konservasi. Dimana, tahun 2026 hanya menganggarkan sekitar 669 juta untuk keseluruhan kegiatan konservasi dan pelindungan Kawasan hutan di NTB. Anggaran tersebut meningkat sekitar 2,7 miliyar pada tahun 2029.
SATONDA, TAMAN NASIONAL YANG JARANG DIPERHATIKAN

Keberadaan Pulau Satonda sebagai salah satu entitas dalam taman nasional Moyo Satonda kurang mendapatkan perhatian. Ini dibuktikan dengan fasilitas yang kurang memadai, listrik yang padam, serta dermaga yang belum cukup untuk menampung wisatawan.
Keberadaan bangunan dalam kawasan pulau Satonda masih minim pemeliharaan. Meski begitu, view yang cantik serta flora fauna yang eksotis membuat “cantik” patahan Gunung Tambora tersebut.
Selain itu, keterlibatan masyarakat local dilingkar pulau juga masih minim dalam edukasi dalam menjaga Kawasan taman nasional. Pemerintah seakan “mau berjalan sediri” untuk menjaga wilayah hutan. Sehingga visi dari kementrian kehutanan dengan menjadikan hutan sebagai “Entitas Kawasan Hutan Yang Mengalirkan Manfaat Ekologi, Ekonomi dan Sosial Dalam Mewujudkan Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045” masih jauh.
Dengan demikian, tidak ada bedanya situasi ekonomi dan social masyarakat baik sebelum dicetuskannya sebagai taman nasional ataupun setelah diberikannya label sebagai taman nasional Moyo Satonda.



Komentar