Wak Riki, Sang "Penantang Samudra" Dari Sugian
- Firman Siddik

- 2 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Namanya tidak tercatat dalam sejarah sebagai penjelajah Samudra ataupun penemu Benua yang hilang. Ia hanya nelayan ikan yang menyaksikan berbagai sejarah kelam di Kawasan laut Nusantara.
Ia pernah mendekam dalam penjara Australia hingga menyaksikan bagaimana gelombang Tsunami meluluh lantahkan sebuah Kawasan bermukim.

adbmi.org - Letusan Gunung Tambora pada tahun 1.815 yang lalu mengantarkan kami untuk melakukan observasi. Tidak langsung ke Gunung Tambora, kami memilih Pulau Satonda. Pulau kecil di kaki gunung Tambora yang memiliki kaitan erat dengan gunung purba tersebut.
Berangkat dengan menggunakan kapal nelayan Sugian, Wak Riki adalah nahkoda pilihan kami. Pelaut asal Banyuwangi yang kini menetap di Sugian Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Wak Riri memiliki nama asli Sunoto. Ia lahir di Ketapang Banyuwangi dari keluarga nelayan sederhana. Hidup dari hasil tangkapan lautan lepas, ia tumbuh sebagai pelaut yang handal.
Wak Riki kini tinggal di Sugian, sebuah daratan yang langsung berbenturan dengan laut lepas. Ia datang ke Lombok sebagai nelayan pada tahun 1980an. Kemudian menikah dan menetap di Lombok.
Dari raut wajah dan kusamnya warna kulit, terlihat jelas bahwa hidupnya lebih banyak dilautan. Bahkan lebih dari setengah usianya ia gunakan untuk mencari penghidupan di laut lepas.
Dengan menggunakan kapal nelayan, tanpa GPS, ia membawa kami ke Pulau Satonda, Kabupaten Dompu. Ia hanya menggunakan kepiawaiannya dalam membaca pergeseran bintang dan juga bulan. Dari kemampuannya itu, ia bahkan juga pernah berlayar ke Australia.

DITANGKAP POLISI AUSTRALIA
Sekitar tahun 1990an, ia pernah berurusan dengan pihak imigrasi Australia. Bukan karena mencuri, bukan juga karena kasus kejahatan. Ia hanya mencari ikan, mengikuti arus perjalanan ikan sehingga tak sadar sampai pada Kawasan Australia.
Perahunya di tahan selama dua bulan, begitu juga dengan dirinya akibat melewati batas territorial sebuah negara.
Penahanan itu berlaku hanya dua bulan. Ia mendapatkan kompensasi dari pemerintah Australia karena tidak terbukti bersalah dan tidak membahayakan.
Dari kompensasi berupa uang tersebut, ia kemudian membeli kapal lagi dan sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
SAKSI SEJARAH GANASNYA LAUTAN
Beberapa kali ai menyaksikan bagaimana ombak Tsunami meluluh lantahkan sebuah Kawasan. Mulai dari Kawasan tak berpenghuni sampai dengan Kawasan yang dihuni oleh puluhan ribu jiwa.
Kembali pada tahun 1992, ketika bencana Gempa yang disambut dengan Tsunami menghantam wilayah Maumere, Nusa Tenggara Timur. Wak riki saat itu tengah berada di tengah lautan, menyaksikan bagaimana dahsyatnya gelombang tsunami menghilangkan nyawa ribuan warga.
Puluhan rumah hancur, mayat ā mayat bergantung di atas pohon menunjukan dahsyatnya gelombang tsunami kala itu. Beruntung, ia selamat.
Dua bulan kemudian, ia berlabuh ke maumere dari Lombok untuk menangkap ikan. Ia menepi melihat bagaimana sisa ā sisa bangunan yang masih belum saja berubah. Anak kehilangan orang tuanya, orang tua kehilangan anak ā anaknya.
Tidak ada yang tenang di lautan. Lautan tidak bisa di baca dengan teknologi. Tapi, bagi wak riki lautan adalah harta karun bagi para nelayan. Lautan adalah sawah tempat mereka mengais rezeki bagi keluarga.



Komentar