top of page

Menjaga Ketahanan Keluarga Migran Lewat Kecerdasan Emosional


adbmi.org — Pekerja Migran Indonesia (PMI) kerap disematkan julukan "Pahlawan Devisa" atas sumbangsih ekonominya. Namun, di balik narasi keberhasilan finansial tersebut, perpisahan fisik jangka panjang (Long-Distance Family) membawa kerentanan sosial yang nyata bagi keluarga yang ditinggalkan (left-behind families). Migrasi adalah peristiwa kemanusiaan yang melibatkan martabat dan ikatan emosional, bukan sekadar urusan transaksi ekonomi semata.


Kerentanan Jarak Jauh dan Ancaman Relasi

Kehidupan keluarga migran yang terpisah jarak menyimpan risiko krisis komunikasi yang berujung pada keretakan rumah tangga hingga perselingkuhan. Penelitian mengenai Migrasi Internasional: Perilaku Pekerja Migran di Malaysia dan Perempuan Ditinggal Migrasi di Lombok Timur menunjukkan bahwa tekanan psikologis pada istri yang ditinggalkan serta dinamika perilaku suami di negara penempatan sangat memengaruhi daya tahan perkawinan. Ketika komunikasi antar-pasangan hanya berputar pada persoalan uang kiriman tanpa validasi emosional, jarak hubungan akan melebar.


Dampak Pada Anak: Risiko Penelantaran dan Pernikahan Dini


Dampak krisis relasi ini juga mengancam tumbuh kembang anak akibat ketidakhadiran figur orang tua (parental absence). Studi Hak-Hak Anak serta Faktor Risiko dan Protektif Penelantaran Anak Pekerja Migran Indonesia di Jerowaru, Lombok Timur mengidentifikasi bahwa ketidakhadiran orang tua tanpa pola asuh pengganti yang empatik meningkatkan risiko penelantaran anak secara signifikan.


Kondisi ini dipertegas oleh Kajian Komnas Perempuan bersama Pemkab Lombok Timur mengenai Saling Keterkaitan Perkawinan Anak dan Kerentanan PMI. Kajian tersebut menemukan adanya siklus kerentanan yang saling memengaruhi: pernikahan dini memicu migrasi berisiko, dan sebaliknya, minimnya ruang aman (safe space) serta pengawasan orang tua akibat migrasi mendorong anak memilih menikah muda sebagai "jalan keluar" emosional.


Kecerdasan Emosional Sebagai Benteng Keluarga

Untuk memutus rantai kerentanan ini, pendekatan Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional) menjadi kunci mendasar:

  1. Kesadaran Diri (Self-Awareness) Pasangan: Menjadi "rem emosional" bagi suami-istri untuk mengolah rasa sepi dan jenuh menjadi dialog yang jujur, bukan tindakan impulsif yang merusak komitmen perkawinan.

  2. Empati Pengasuhan (Empathetic Parenting): Memastikan orang tua hadir secara emosional untuk mendengar dan memvalidasi perasaan anak, bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi.

  3. Pendampingan Komunitas: Menghadirkan ruang aman (safe space) di tingkat lokal untuk penguatan psikososial dan edukasi pengasuhan positif (positive parenting).


Keberhasilan migrasi tidak boleh hanya diukur dari besarnya nilai rupiah yang dikirimkan. Pemuliaan martabat keluarga migran harus mencakup kesehatan jiwa dan keharmonisan relasi mereka. Keberhasilan sejati tercapai ketika keluarga mampu saling berempati dan memastikan anak-anak tumbuh secara utuh di tengah bentangan jarak dan waktu.


_____

Essai ini ditulis oleh Rizka Hidayatussolihah Mahasiswi Universitas Siber Asia.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

ADBMI Foundation

Kami concern terhadap isu-isu Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan keluarganya.

Email: yayasanadbmi@gmail.com

Phone: 037621880

Kab. Lombok Timur

Update Buletin Setiap Bulan

Terimakasih sudah berlangganan..!!

© 2025 - ikone |  Terms of Use  |  Privacy Policy

bottom of page