Meninggalkan Lubang Maut Demi Masa Depan, Asa Pemuda Lombok di Negeri Jiran
- Firman Siddik

- 7 jam yang lalu
- 2 menit membaca

Di bawah terik matahari Lombok Tengah, bayang-bayang lubang tambang emas yang gelap dan sempit masih menghantui ingatan para pemuda di Desa Pengenjek Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah.
Bagi mereka, menambang emas bukan sekadar pekerjaan, melainkan taruhan nyawa demi sesuap nasi.
Namun kini, arah angin berubah. Sebagian dari mereka memilih untuk menanggalkan senter tambang dan bersiap mengadu nasib sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui jalur resmi.
Taruhan Nyawa di Kedalaman 500 Meter

adbmi.org - Aedoel Jumaidi (40), seorang ayah asal Pengenjek, tidak akan pernah melupakan kejadian bulan Mei lalu. Selama empat tahun terakhir, ia menggantungkan hidupnya di lubang tambang emas ilegal di kawasan Kuta Mandalika. Ia menceritakan betapa mengerikannya bekerja di bawah tanah dengan kedalaman mencapai 500 meter.
"Pernah ditimpa sama tanah pas longsor di dalam lubang," kenang Aedoel Jumaidi dengan nada getir.
Baginya, tambang adalah ketidakpastian; terkadang membawa rezeki, namun sering kali hanya menyisakan modal yang tak kembali. Motivasi utamanya bertahan di tengah risiko kematian hanyalah satu, membiayai sekolah ketiga anaknya.
Senada dengan Aedoel Jumaidi, Rian Haryanto, pemuda berusia 20 tahun, juga merasakan kerasnya mencari emas sejak lulus SMA tahun 2020. Penghasilannya tidak menentu, terkadang ia bisa membawa pulang Rp300 ribu dalam tiga hari, namun tak jarang ia pulang dengan tangan hampa atau zonk.
"Milih merantau buat masa depan yang panjang," ujar Rian yang bercita-cita membangun rumah dan menikah dari hasil keringatnya di luar negeri nanti.
Aedoel Jumaidi dan Rian Haryanto merupakan satu keluarga, bahkan memiliki hubungan ayah dan anak.
Keputusan mereka menjadi PMI karena kebutuhan ekonomi, karena kepastian dari hasil tambang emas ilegal yang tak pasti hasilnya.
Pahit Manis Merantau dan Janji Palsu
Bagi Aedoel Jumaidi, keberangkatan kali ini akan menjadi perjalanannya yang keenam kali ke Malaysia. Ia adalah saksi hidup pasang surut dunia PMI.
Ia pernah merasakan masa jaya dengan gaji mencapai 10.000 Ringgit Malaysia per bulan saat musim panen sawit tiba. Namun, ia juga pernah merasakan pahitnya dikhianati oleh janji-janji manis oknum perekrut atau tekong.
"Di Indonesia janjinya air ada, api (listrik) ada. Ternyata di Malaysia air enggak ada, api enggak ada," ungkap Aedoel Jumaidi menceritakan pengalaman rekan-rekannya.
Menurutnya, banyak pekerja yang akhirnya melarikan diri karena fasilitas yang didapat tidak sesuai dengan perjanjian awal. Pengalaman inilah yang membuatnya kini lebih berhati-hati dan memilih jalur pemberangkatan yang transparan dan resmi.
Membekali Diri dengan Pengetahuan

Menyadari besarnya risiko yang dihadapi para calon PMI, orientasi sebelum keberangkatan menjadi krusial. Fauzan menjelaskan pentingnya kegiatan PEO (Pre Employment Orientation) atau Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP) bagi para calon pekerja migran.
PEO ini diselenggarakan oleh ADBMI Foundation bekerjasama dengan IOI Corporation Berhad yang merupakan perusahaan sawit global asal Malaysia dan juga IOM.
Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk memastikan seluruh calon pekerja migran mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai hak dan kewajiban mereka.
"Bagaimana mereka tahu perekrutan yang etis, mengetahui hak dan kewajiban hingga pengelolaan keuangan," jelas Fauzan selaku trainer pada kegiatan ini.
Melalui orientasi ini, para calon pekerja dibekali pemahaman agar tidak mudah tertipu dan mengetahui prosedur yang harus ditempuh jika terjadi masalah di negara penempatan.



Komentar